"Fira ! Lo napa telat ? Rapatnya batal gara - gara lo dateng telat !" teriak Geby kesal karena yang telah lama menunggu Shafira. "Hah ? Telat ya.. Sorry deh..." tanya Shafira kaget. "Sorry - sorry ! Gak guna tau ! Udahlah ! Gue sebagai ketua OSIS mau lo buat denah untuk hari Valentine ! Gua mau dalam dua hari udah bisa selesai dan bisa di presentasikan ! Gue harap lo gak kecewain yang lain lagi !" pinta Geby dengan nada kesal. "Oke bos ! Pasti jadi deh ! Pokoknya gak bakal telat and mengecewakan !" bales Shafira dengan gaya hormat saat Geby meninggalkannya sendiri.
"Lho ? Kok lo masih di sini ? Belum pulang ?" tanya seorang laki - laki dengan nada rendah. "Oh, kamu lagi ! Kamu sendiri ? Kenapa belum pulang ? Nungguin pacar ya ?" tebak Shafira jahil. "Hah !? Oh.. eh.. gue belum punya pacar" bales Justin gagap. "Halahhh.. Boong ! Hari gini belum punya pacar ? Tapi kalo diliat - liat, bisa juga kalo kamu gak punya pacar. Soalnya.." kata Shafira sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya. "Soalnya ?" "Tampang kamu jelek" ejek Shafira.
"Yee ! Kejam banget sih ! Udah ah ! Bosen di sini !" kata Justin kesel sambil melangkah pergi. Tanpa sengaja Shafira menarik tangannya. "Eh, kamu mau pulang ? Boleh nebeng gak ?" tanya Shafira memelas. "Siapa yang bilang mau pulang ? Ge-er deh ! Orang mau maen basket ! Gak liat nih bawa bola basket ?" tunjuk bola basket Justin yang bermerek SPALDING yang lagi di pegangnya. "Huhh.. nyebelinn ! Udah sana pergi ! Hus hus !" bales Shafira kecut. Justin hanya bisa tertawa sambil melangkah menuju lapangan.
Di lapangan tampak segerombol cowok sedang asyiknya bermain basket, diramaikan dengan teriakan support beberapa cewek yang rela berjemur di bawah matahari yang hari itu sangat menyegat.
"Eh Justin ! Woi, ada Justin ! Lo mau ikut main gak ? Butuh orang nih, orangnya lagi gak imbang, 4-5. Kalo lo ikut, lo jadi timnya Ken." sahut Dhihan, dan seketika yang lain juga stop bermain, dan langsung mendekati Dhihan dan Justin. "Boleh - boleh. Gue ganti baju dulu ya. Lo pada lanjutin aja." kata Justin. Dan sebelum yang lain setuju, Justin sudah kabur membawa baju basketnya.
Justin baru saja berbelok ke toilet untuk ganti baju, tiba - tiba saja bertemu Shafira yang hampir tertabrak.. lagi."Haduhh ! Kamu lagi ! Kalo jalan pakai mata dong !" sahut Shafira yang kesal. "Nah lo sendiri ! Pake dengkul ! Tadi malahan lo udah nabrak gue, dan sekerang mau nabrak gue lagi, masih aja gue yang disalahin ! Mau lo itu apa sih !" bales Justin tidak kalah nyebelin. "Kamu mau tau aku mau apa ? Boleh pinjem bola basketnya gak ?" tanya Shafira yang menurunkan sedikit nada bicaranya. Tanpa lama - lama lagi dan karena sudah telat, Justin segera memberi bolanya. "Mau lo apain ? Ja.." "Mau aku itu ini !" Shafira memegang bola itu satu tangan, dan menghempaskannya tepat kepada muka Justin. Bruuukkk.. Justin terpental jatuh ke lantai.
Waduhh... terlalu keras ya ? Hidungnya berdarah ! Aduh gimana dong ? Kabur aja deh ! Alternatif paling cepet !1...2...3 ! Seketika itu juga Shafira langsung lari sekencang - kencangnya meninggalkan Justin yang terduduk di lantai.
You Know I Do Anything For You...
Hahaa.. rate di setiap post ya !
Selasa, 01 Maret 2011
Jumat, 25 Februari 2011
Cinta Sejati - Chapter 7
Tanpa terasa, mereka telah menaiki kelas 12, begitu juga dengan umur mereka yang menjadi 17. Tapi tidak untuk Justin. Karena akibat sifatnya yang nakal, saat kelas 8,dia pernah melakukan tindakan yang sudah kelewatan, sehingga dia di keluarkan dan harus mengulang lagi dari awal, di sekolah dan kelas yang baru, menjadi yang tertua di angkatan itu.
''Gua di kelas mana ya ?" tanya Justin yang sedang mencari kelasnya seperti orang yang sedang tersesat disebah hutan tak berpenghuni. "Yes ! Kita sekelas !" teriak 2 orang perempuan tidak jauh dari tempat Justin berdiri. Seketika dia melihat ke arah 2 perempuan yang telah beranjak pergi dan menghampiri ke tempat 2 perempuan tadi berdiri. Ternyata gue di kelas ini ! Ujung banget ! Tapi gak apa - apa lah, biar paling ujung dari gerbang sekolah, tapi paling deket di...
''Gua di kelas mana ya ?" tanya Justin yang sedang mencari kelasnya seperti orang yang sedang tersesat disebah hutan tak berpenghuni. "Yes ! Kita sekelas !" teriak 2 orang perempuan tidak jauh dari tempat Justin berdiri. Seketika dia melihat ke arah 2 perempuan yang telah beranjak pergi dan menghampiri ke tempat 2 perempuan tadi berdiri. Ternyata gue di kelas ini ! Ujung banget ! Tapi gak apa - apa lah, biar paling ujung dari gerbang sekolah, tapi paling deket di...
Brukk.. terakhir kali yang dia lihat cuma buku - buku dan kertas - kertas yang berserakan di lantai. Sejenak Justin menggelengkan kepalanya untuk membalikan penglihatannya yang kabur. ''Sorry - sorry ! Aku lagi ke buru - buru ada rapat ! Kamu gak apa - apa ?" tanya seorang perempuan yang berambut lurus kecoklatan sebahu lebih panjang dengan satu pita kuning untuk menjepit poninya. Tingginya kira - kira 168, tinggi yang ideal. Tapi dengan tubuhnya yang ceking membuat dia tidak di minati banyak laki - laki.
"Gak apa - apa kok. Ada rapat apa ? Hahh.. lo kan.." Justin kaget banget menyadari kalau ternyata itu Shafira. "Eh... kamu kan... yang di ruang seni itu kan ?" tanyanya yang juga terkejut. "I..ii..ya...iya. Lo bisa main piano ?" tanya Justin basa - basi. "Aku ? Bisa dong. Kan waktu itu aku main. Ya tapi masih payah. Waduh ! Aku ada rapat OSIS ! Kapan - kapan aja ya kita ngoborolnya !" jawabnya dengan panik karena telat untuk rapat.
"Lo anak OSIS ? Oh ya, gue Justin." katanya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan. ''Shafira. Em.. aku duluan ya ! Udah telat nih" katanya ketika menyadari tangannya di pegang erat oleh Justin. Justin yang melihat sontan lansung melepaskan dengan malu. "Oh oh ii.. iya.." bales Justin. "Daaa !" bales Shafira sambil berjalan cepat menuju ruang OSIS.
Rabu, 05 Januari 2011
Cinta Sejati - Chapter 6
Sesudah mengambil kotak obat, Justin menyuruh Sandra untuk pakaikan perban ke Reynard karena Justin mau benerin gitarnya. Soalnya suaranya juga cempreng. "Suit - suit ! Rey and Sandra sitting on the tree ! K-I-S-S-I-N-G ! Kissing ! Hahahaha" ejek Justin tertawa. "Apa sih lu tin - tin !" bales Rey yang gak mau kalah. "Ada mobil lewat, Justin di tengah jalan, terus jegerr.." ikut Sandra. Akhirnya mereka tertawa bersama sampai akhirnya Sandra tertidur. "Eh, Rey, gimana sih caranya dapetin cewek ? Nanya aja lho ya" "Sini gue kasih tau.." bales Rey yang akhirnya harus menunda baca komiknya. Soalnya ya, kamar Reynard juga gak kira - kira komiknya, 3 lemari ! "Oh oke deh, jadi tinggal gitu doang ! Siip !" jawab Justin senang. "Hah ?" jawab Sandra yang baru bangun dari tidurnya. "Hahahaha, rambut lo napa Dra ? Hahaha" tanya Justin terpingkal - pingkal. "Aduhh.. rambutku !" katanya yang akhirnya menyadarinya dan segera merapikan rambutnya.
Mataharipun sudah mulai mengantuk, sehingga sahabatnya bulan, akan membantunya menyinari pada malam hari. "Kita pulang ya ! Ayo San" kata Rey yang minta ijin pulang bersama Sandra. "Gila, besok bisa jadi seru !" kata Justin tersenyum ria.
Ketika di sekolah, hari ini ada sesuatu tampak berbeda, Justin ! Dia memakai Jaket Hitam mengkilat, rambut jabrik keatas, sampai memakai kaca mata tahun 80'an. Kalau udh liat cewe cakep langsung cengar cengir. "Hi ! Hai !..." kata Justin sambil berjalan keren. Tidak sadar di depannya ada batu yang bisa membuatnya... "Aduhhhh..." teriak Justin. Tidak heran kontan semua yang di situ tertawa, ya dasarnya mau cari perhatian.
Saat waktu bubar, Rey mendekati Justin. "Yo mannn, napa lo ? hahaha" katanya sok akrab. "Jadinya mau ngejek nih ?" jawab Justin kecut. "Ya habis, lo gampang banget di kerjain ! Hahahah, aduh ngakak nih gue, lo lucu banget !" "Ah tau lah ! Males bedebat" kata Justin yang menyenderkan tubuhnya di kursi lapangan basket sekolah. "Yaudah, gue tinggal ya ! Gue ada urusan sama Sandra" "Dating ya ? Hahaha" "Bukan urusan lo !" balesnya kecut sambil meninggalkan Justin. "Kok yang marah jadi lo ya ? Hahahaha" tanya Justin pada dirinya yang sudah terpingkal - pingkal.
Chapter 7 nya kayanya agak lama terbitnya, Tunggu aja ya !
Mataharipun sudah mulai mengantuk, sehingga sahabatnya bulan, akan membantunya menyinari pada malam hari. "Kita pulang ya ! Ayo San" kata Rey yang minta ijin pulang bersama Sandra. "Gila, besok bisa jadi seru !" kata Justin tersenyum ria.
Ketika di sekolah, hari ini ada sesuatu tampak berbeda, Justin ! Dia memakai Jaket Hitam mengkilat, rambut jabrik keatas, sampai memakai kaca mata tahun 80'an. Kalau udh liat cewe cakep langsung cengar cengir. "Hi ! Hai !..." kata Justin sambil berjalan keren. Tidak sadar di depannya ada batu yang bisa membuatnya... "Aduhhhh..." teriak Justin. Tidak heran kontan semua yang di situ tertawa, ya dasarnya mau cari perhatian.
Saat waktu bubar, Rey mendekati Justin. "Yo mannn, napa lo ? hahaha" katanya sok akrab. "Jadinya mau ngejek nih ?" jawab Justin kecut. "Ya habis, lo gampang banget di kerjain ! Hahahah, aduh ngakak nih gue, lo lucu banget !" "Ah tau lah ! Males bedebat" kata Justin yang menyenderkan tubuhnya di kursi lapangan basket sekolah. "Yaudah, gue tinggal ya ! Gue ada urusan sama Sandra" "Dating ya ? Hahaha" "Bukan urusan lo !" balesnya kecut sambil meninggalkan Justin. "Kok yang marah jadi lo ya ? Hahahaha" tanya Justin pada dirinya yang sudah terpingkal - pingkal.
Chapter 7 nya kayanya agak lama terbitnya, Tunggu aja ya !
Rabu, 29 Desember 2010
Langganan:
Postingan (Atom)