''Gua di kelas mana ya ?" tanya Justin yang sedang mencari kelasnya seperti orang yang sedang tersesat disebah hutan tak berpenghuni. "Yes ! Kita sekelas !" teriak 2 orang perempuan tidak jauh dari tempat Justin berdiri. Seketika dia melihat ke arah 2 perempuan yang telah beranjak pergi dan menghampiri ke tempat 2 perempuan tadi berdiri. Ternyata gue di kelas ini ! Ujung banget ! Tapi gak apa - apa lah, biar paling ujung dari gerbang sekolah, tapi paling deket di...
Brukk.. terakhir kali yang dia lihat cuma buku - buku dan kertas - kertas yang berserakan di lantai. Sejenak Justin menggelengkan kepalanya untuk membalikan penglihatannya yang kabur. ''Sorry - sorry ! Aku lagi ke buru - buru ada rapat ! Kamu gak apa - apa ?" tanya seorang perempuan yang berambut lurus kecoklatan sebahu lebih panjang dengan satu pita kuning untuk menjepit poninya. Tingginya kira - kira 168, tinggi yang ideal. Tapi dengan tubuhnya yang ceking membuat dia tidak di minati banyak laki - laki.
"Gak apa - apa kok. Ada rapat apa ? Hahh.. lo kan.." Justin kaget banget menyadari kalau ternyata itu Shafira. "Eh... kamu kan... yang di ruang seni itu kan ?" tanyanya yang juga terkejut. "I..ii..ya...iya. Lo bisa main piano ?" tanya Justin basa - basi. "Aku ? Bisa dong. Kan waktu itu aku main. Ya tapi masih payah. Waduh ! Aku ada rapat OSIS ! Kapan - kapan aja ya kita ngoborolnya !" jawabnya dengan panik karena telat untuk rapat.
"Lo anak OSIS ? Oh ya, gue Justin." katanya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan. ''Shafira. Em.. aku duluan ya ! Udah telat nih" katanya ketika menyadari tangannya di pegang erat oleh Justin. Justin yang melihat sontan lansung melepaskan dengan malu. "Oh oh ii.. iya.." bales Justin. "Daaa !" bales Shafira sambil berjalan cepat menuju ruang OSIS.
Maaf kalo pendek. Yang Penting ada yang baru kan ? Tunngu yang selanjutnya. Tapi kayaknya bakal lama. Harus beljar penuh buat UASBN. Sorry ya !
BalasHapus