Pilihin dong... mau cerita yang :
- Romance ?
- RPG ?
- Friendship ?
Di comment yaa... biar tau yg paling bnyk ! Thx... :D
Selasa, 08 Juni 2010
Senin, 07 Juni 2010
Populer and the Princess - Chapter 20B
Tommy menggerek tangan Lisha yang malu - malu untuk keluar mobil dengan tampang barunya, yang bagaikan permaisuri pikir Tommy. "Tom, udahlah, gue nggak usah keluar, lagian gue nggak bisa nih pake hak hak gini, daripada malu - maluin lo gue jatoh nanti," bujuk Lisha. "Ah, diem aja deh lo, kalo lo nggak ikut, amanah dari Clarissa gimana dong?" Hati Lisha serasa tertancap duri yang sangat tajam, mengingat sahabatnya telah tiada. Demi sahabatnya itu, ia memilih untuk mengalah.
Irwan, Nessa, Glen, Andi dan Bobby telah siap menunggu. Tak berbeda dengan Tommy, mereka tak kalah terkejut dengan penampilan Lisha yang berubah 180derajat. "Wah, Lis, kalo lo kayak gini terus sih, wah, sini deh lo sama gue aja," canda Andi bergombal. Lisha hanya tersenyum kecut, karena hal seperti inilah yang ia tidak ingin lihat.
Band Tommy telah siap di backstage. "Eh, Wan, jagain si Lisha juga ya, jangan mentang - mentang udah punya Nessa lo nggak bertanggung jawab sama dia, hahaha.." "Hah? Nggak salah lo? Kayaknya lo musuh bebuyutan gitu sama si Lisha, malah minta jagain? Minum obat apa lo? Stress kali ya temen gue ini." sahut Irwan tak percaya. "Ih apasih, Wan? Haha.. Emang kalo gue sayang sama Lisha nggak boleh?" timpal Tommy santai, tak melihat Irwan terbengong - bengong melihat kelaluan temannya kali ini. "Wah, jadi berita bagus nih," pikir Irwan dalam hati.
Saatnya Tommy menyanyi, tak biasanya ia memberikan sedikit kata pengantar.
Lagu ini gue persembahin kepada seorang cewe tomboy, yang nggak pernah nurut sama kata - kata gue yang sangat bijak, hehehe.. Tapi saat ini, dia menjadi cewe yang manis dan sangat anggun...
Irwan yang mengetahui orang yang dimaksud Tommy, menyenggol siku Lisha. Lisha yang kaget menatap Irwan, dan tersipu malu. "Cieee.. Lis, buruan nih ada yang nunggu, tungguin gih di backstage, pasti si Tommy perlu supporter terutama lo," saran Nessa. Wajah Lisha kian memerah, dan memilih untuk pergi dengan alasan menuju backstage, padahal ia ingin ke toilet. Cukup lama Lisha berada di toilet, samar - samar ia mendengar dentingan dan alunan musik yang dilantunkan Tommy. Indah dan tenang..
Lisha keluar dari toilet dengan mata sembab, karena masih malu melihat keadaan yang ramai walaupun band Tommy telah usai manggung. Tak melihat, seorang pelayang membawa minum hampir menabrak Lisha, sebagai gantinya Lisha menghindar dan terpeleset karena menggunakan higheels. Lisha merasakan sesuatu yang tidak keras seperti lantai, tapi kenyamanan. "Jalan itu pakai mata, jangan pakai rambut kali.." sindir Tommy. "Tommy! Ngapain disini?!" jawab Lisha salah tingkah dimana ia masih memikirkan Tommy. "Ih, ini anak, udah ditolongin bukannya terimakasih malah marah - marah" canda Tommy. "Iya, makasih ya Tom." sahut Lisha sambil berjalan pergi karena takut ketahuan wajahnya memerah.
Beberapa hari kemudian, Tommy telah meninggalkan rumahnya kurang lebih 3 hari tanpa kabar. Padahal besok adalah hari ulangtahun Lisha. Semakin khawatirlah Lisha menunggu Tommy, ponselnya tidak bisa dihubungi dan teman-temannya tidak mengetahui kemana Tommy pergi.
"Tommy, lo dimana, gue kangen sama lo, Tom," ujar Lisha dalam hati, tanpa sadar air matanya menetes.
Tanpa sadar, kaki Lisha membawa dirinya menuju taman kesukaannya dengan Tommy. Lisha memutuskan untuk menunggu sebentar sambil mencari angin. Hampir lewat pukul 12 malam, tetapi Lisha belum dirasai rasa kantuk dan lelah setelah 3 hari mencari Tommy.
"Gue, kangen sama lo, Tommy. Gue kangen sama kejailan dan kehangatan lo, gue gabisa jauh dari lo. Gue sayang sama lo, Tom," kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa dapat ia cegah. "Hmm, rupanya ada yang ngangenin gue.. Hehehe..." canda Tommy yang muncul tiba - tiba membawa 2 buah es krim dari pundak Lisha. Lisha yang terkejut, menghadap ke Tommy yang duduk disebelahnya. "Tommy!" tak ada kata - kata yang dapat Lisha ungkapkan, hanya air mata bahagia yang bisa ia bagi dengan Tommy. Tommy mengerti. Ia merangkul Lisha, dan membiarkannya menangis di bahunya.
Setelah beberapa saat, dan Tommy merasa Lisha cukup menangis yang membuat bajunya basah. "Ckckck, kapten basket kok nangis mulu sih.. cupcupcup, anak maniss..." Terlalu kesal Lisha dibuat Tommy, ia memukuli Tommy sepuasnya disertai tawa Tommy. "Ah, udah ah, sakit tau! Lis, gue bawain lo es krim nih. Ada yang coklat loh.. Hehehe..." Lisha mengambilnya. Baru sedikit ia menjilatnya, ada bagian keras yang ia rasakan. Mungkin biskuit, pikirnya. Semakin lama, benda itu semakin jelas. Cincin. Sebuah cincin tergeletak di pucuk es krim coklat itu. Lisha memerhatikan wajah Tommy yang menyunggingkan seulas senyum bahagia. "Selamat ulangtahun ya, Lisha. Gue sayang sama lo," Sekali lagi, hanya air mata yang berlinang dapat ia ekspresikan.. Tommy memeluk Lisha. "Gue juga sayaaaang banget sama lo, Tom, makasih ya atas semuanya," ekspres Lisha disela tangisnya.
Suara gemuruh datang, kembang api yang berwarna - warni meletus begitu cepat dan banyak, dimana jam menunjukkan pukul 12.01 WITA, Bali, 10 Juni hari bahagia Lisha dan Tommy.
Irwan, Nessa, Glen, Andi dan Bobby telah siap menunggu. Tak berbeda dengan Tommy, mereka tak kalah terkejut dengan penampilan Lisha yang berubah 180derajat. "Wah, Lis, kalo lo kayak gini terus sih, wah, sini deh lo sama gue aja," canda Andi bergombal. Lisha hanya tersenyum kecut, karena hal seperti inilah yang ia tidak ingin lihat.
Band Tommy telah siap di backstage. "Eh, Wan, jagain si Lisha juga ya, jangan mentang - mentang udah punya Nessa lo nggak bertanggung jawab sama dia, hahaha.." "Hah? Nggak salah lo? Kayaknya lo musuh bebuyutan gitu sama si Lisha, malah minta jagain? Minum obat apa lo? Stress kali ya temen gue ini." sahut Irwan tak percaya. "Ih apasih, Wan? Haha.. Emang kalo gue sayang sama Lisha nggak boleh?" timpal Tommy santai, tak melihat Irwan terbengong - bengong melihat kelaluan temannya kali ini. "Wah, jadi berita bagus nih," pikir Irwan dalam hati.
Saatnya Tommy menyanyi, tak biasanya ia memberikan sedikit kata pengantar.
Lagu ini gue persembahin kepada seorang cewe tomboy, yang nggak pernah nurut sama kata - kata gue yang sangat bijak, hehehe.. Tapi saat ini, dia menjadi cewe yang manis dan sangat anggun...
Irwan yang mengetahui orang yang dimaksud Tommy, menyenggol siku Lisha. Lisha yang kaget menatap Irwan, dan tersipu malu. "Cieee.. Lis, buruan nih ada yang nunggu, tungguin gih di backstage, pasti si Tommy perlu supporter terutama lo," saran Nessa. Wajah Lisha kian memerah, dan memilih untuk pergi dengan alasan menuju backstage, padahal ia ingin ke toilet. Cukup lama Lisha berada di toilet, samar - samar ia mendengar dentingan dan alunan musik yang dilantunkan Tommy. Indah dan tenang..
Aku tak dapat pergi...Kata - kata itu meresap kedalam tiap memori dikepala Lisha. Ia mulai merasakan hal yang tak biasa, merasakan kedamaian dan kehangatan setiap kali ia mendengar suara Tommy. Ia merasakan, dan mengingini Tommy selalu berada di sisinya, mungkin hal ini terdengar agak egois bagi Clarissa, tapi Lisha tidak dapat memaksakan perasaannya terhadap Tommy yang kini menjadi rasa sayang...
Disini alam begitu indah...
Jika kudatang kemari suatu saat nanti...
Ku kan melihat langit yang sama...
Mungkin ku berpikir terlalu banyak...
Tentang keindahan yang kau katakan...
Kutakut jalanku tak berujung...
Kutakut terlambat...
Selama waktu itu ku berpikir...
Disini tak seburuk yang kukira...
Aku mulai menemukan alasannya...
Lisha keluar dari toilet dengan mata sembab, karena masih malu melihat keadaan yang ramai walaupun band Tommy telah usai manggung. Tak melihat, seorang pelayang membawa minum hampir menabrak Lisha, sebagai gantinya Lisha menghindar dan terpeleset karena menggunakan higheels. Lisha merasakan sesuatu yang tidak keras seperti lantai, tapi kenyamanan. "Jalan itu pakai mata, jangan pakai rambut kali.." sindir Tommy. "Tommy! Ngapain disini?!" jawab Lisha salah tingkah dimana ia masih memikirkan Tommy. "Ih, ini anak, udah ditolongin bukannya terimakasih malah marah - marah" canda Tommy. "Iya, makasih ya Tom." sahut Lisha sambil berjalan pergi karena takut ketahuan wajahnya memerah.
Beberapa hari kemudian, Tommy telah meninggalkan rumahnya kurang lebih 3 hari tanpa kabar. Padahal besok adalah hari ulangtahun Lisha. Semakin khawatirlah Lisha menunggu Tommy, ponselnya tidak bisa dihubungi dan teman-temannya tidak mengetahui kemana Tommy pergi.
"Tommy, lo dimana, gue kangen sama lo, Tom," ujar Lisha dalam hati, tanpa sadar air matanya menetes.
Tanpa sadar, kaki Lisha membawa dirinya menuju taman kesukaannya dengan Tommy. Lisha memutuskan untuk menunggu sebentar sambil mencari angin. Hampir lewat pukul 12 malam, tetapi Lisha belum dirasai rasa kantuk dan lelah setelah 3 hari mencari Tommy.
"Gue, kangen sama lo, Tommy. Gue kangen sama kejailan dan kehangatan lo, gue gabisa jauh dari lo. Gue sayang sama lo, Tom," kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa dapat ia cegah. "Hmm, rupanya ada yang ngangenin gue.. Hehehe..." canda Tommy yang muncul tiba - tiba membawa 2 buah es krim dari pundak Lisha. Lisha yang terkejut, menghadap ke Tommy yang duduk disebelahnya. "Tommy!" tak ada kata - kata yang dapat Lisha ungkapkan, hanya air mata bahagia yang bisa ia bagi dengan Tommy. Tommy mengerti. Ia merangkul Lisha, dan membiarkannya menangis di bahunya.
Setelah beberapa saat, dan Tommy merasa Lisha cukup menangis yang membuat bajunya basah. "Ckckck, kapten basket kok nangis mulu sih.. cupcupcup, anak maniss..." Terlalu kesal Lisha dibuat Tommy, ia memukuli Tommy sepuasnya disertai tawa Tommy. "Ah, udah ah, sakit tau! Lis, gue bawain lo es krim nih. Ada yang coklat loh.. Hehehe..." Lisha mengambilnya. Baru sedikit ia menjilatnya, ada bagian keras yang ia rasakan. Mungkin biskuit, pikirnya. Semakin lama, benda itu semakin jelas. Cincin. Sebuah cincin tergeletak di pucuk es krim coklat itu. Lisha memerhatikan wajah Tommy yang menyunggingkan seulas senyum bahagia. "Selamat ulangtahun ya, Lisha. Gue sayang sama lo," Sekali lagi, hanya air mata yang berlinang dapat ia ekspresikan.. Tommy memeluk Lisha. "Gue juga sayaaaang banget sama lo, Tom, makasih ya atas semuanya," ekspres Lisha disela tangisnya.
Suara gemuruh datang, kembang api yang berwarna - warni meletus begitu cepat dan banyak, dimana jam menunjukkan pukul 12.01 WITA, Bali, 10 Juni hari bahagia Lisha dan Tommy.
Populer and the Princess - Chapter 20A
"Pagi, Lisha, sayaaang.." canda Tommy yang muncul tiba - tiba di depan jendela kamar Lisha. Mata Lisha yang sama sekali belum terbuka, terbangun dengan suara khas tersebut. "Apa sih lo sayang - sayangan, ogah gue jadi sayang lo itu!" nada kesal Lisha tak tertahan juga. "Eh, nona cantik pagi - pagi udah marah, cepet tua bu! Hehehe.. Oya, udah siang nih, nanti kita ketinggalan pesawat ke Bali," sela Tommy tak kalah dengan jagoan gombalnya. Tak tahan mendengar ocehan Tommy yang semakin menjadi - jadi, Lisha bergegas mandi dan bersiap - siap menuju airport. "Cepetan ya, Lis"
Sesampainya mereka di airport, Tommy dengan gayanya yang sok cool membantu membawakan koper - koper Lisha yang cukup berat. "Gausah, Tom, makasih, gue bisa bawa sendiri kok," "Ah, sok kuat lo Lis, udah bagus gue mau tolong lo!" sahut Tommy tak mau kalah. Lisha yang mengerti adat Tommy yang keras kepala lebih memilih untuk diam.
Setelah memasukkan koper - koper ke baggage lot mereka mencari tempat untuk menunggu pesawat tujuan Bali yang delay 1 jam. Cukup ramai airport hari itu, sehingga mereka tidak menemukan tempat duduk yang pas untuk mereka berdua. Di ujung tempat tunggu, tersisa satu tempat duduk. Tommy memilih untuk berdiri. "Duduk aja Lis, gue bisa berdiri kok, sekalian mau beli makanan sebentar," katanya dengan sopan. "Ah, nggak kok, gue nggak mau makan, lagian gue juga nggak pegel, lo aja, tadi kan lo udah bantu gue bawa koper," jawab Lisha. Tommy yang sebenarnya pegal, tersenyum geli di dalam hati melihat tingkah laku Lisha yang bisa dibohongi dengan gombal anak kecilnya itu.
-- setting : BALI
Sesampainya mereka di hotel pesanan mereka di Bali, mereka menelfon teman - teman mereka yang bersangkutan dalam pembuatan 4 Teens Party. "Lis, nanti jam 5 sore Glen sama Irwan acara 4 Teens Party dimulai, katanya sih juga ada Nessa," info Tommy dengan nada menyindir. "Hah? Nessa pacar barunya Irwan? Serius lo?" "Katanya sih gitu, gue juga nggak nyangka punya pacar baru langsung di gebet ke Party kita," "Oh, gitu, yaudah, kebetulan gue juga udah kenal si Nessa itu,"
Tommy rupanya secepat kilat merapihkan dirinya, sehingga ia yang duluan menghampiri Lisha.
"Heh! Lo tuh ngapain sih? Boker massal? Lama bener cuma mandi sama rapihin kamar! Cepetan, udah jam 4, kebo lo!" panggil Tommy sambil bercanda dan mengetuk pintu kamar Lisha. "Eh iya sabar Tom, gue lagi ganti baju nih, jangan masuk lo leher jerapah! Awas lo ngintip, gue kutuk jerawat segede batu di mata lo! Lagian baru juga jam 4 sih," sela Lisha tak kalah ketus sambil bercanda. Lisha keluar dengan pakaian bak pengemis jalanan, dengan jeans belel dan baju gothic. "Lis, lo nggak salah kostum nih?! Kita tuh bukan mau ke warung, kita mau ke restoran hotel! Ih, lo cewe apa cowo sih?" ujar Tommy kesal. "Ya sabar kali Tom, cuma baju celana gue juga, bentar gue cari yang bagusan, kalo ada tapi ya, hehehe.." canda Lisha. "Nggak, nggak kelamaan nungguin lo ganti baju!" dengan tidak sabar Tommy menarik tangan Lisha menuju outlet terdekat. "Eh, Tom, mau kemana woy? Gila lo ya, udah narik - narik tangan gue, diem aja lagi waktu gue tanya, emang lo pikir gue ini ngomong sama tembok?!" tembak Lisha. "Diem aja deh lo, yang penting lo tau nanti lo bakal secantik itu tuh, princess princess anak kecil, apa sih namanya, lupa gue," gombal Tommy yang kambuh lagi. "Terserah lo dah, awas jangan macem - macem lo sama gue," nada Lisha yang semakin pasrah.
"Lis, lis coba deh gaun yang ini, kayaknya cocok sama lo," tanya Tommy. "Hah? Apaan nih? Nggak! Ogah gue pake yang ginian, bisa dicap apa gue sm anak-anak! Ih nggak deh, cari yang lain aja Tom!" sergah Lisha dengan geli. Tommy yang tidak sabar mendorong Lisha kedalam fitting room untuk mencoba gaun tersebut. Melihat wajah Tommy yang memohon, Lisha tak tega, akhirnya ia mengalah dan mencoba gaun itu dengan tekad jika ia tidak suka akan meninggalkan outlet tersebut.
Pandangan Tommy tak lepas dari ujung rambut hingga kaki Lisha, terpesona dengan keanggunan Lisha yang tak kalah dengan model. "Whoaaa, Lis, cantik juga ya lo ternyata! Udah, Mbak, saya beli gaun ini satu," puji Tommy, seraya meninggalkan Lisha dengan gaun itu menempel di tubuhnya. "Eh, gila ya si Tommy!" Lisha mengejar Tommy, yang ternyata sudah sampai di mobil dengan earphone menempel di telinganya bermaksud tidak mau mendengar alasan keluar dari mulut Lisha.
Sesampainya mereka di airport, Tommy dengan gayanya yang sok cool membantu membawakan koper - koper Lisha yang cukup berat. "Gausah, Tom, makasih, gue bisa bawa sendiri kok," "Ah, sok kuat lo Lis, udah bagus gue mau tolong lo!" sahut Tommy tak mau kalah. Lisha yang mengerti adat Tommy yang keras kepala lebih memilih untuk diam.
Setelah memasukkan koper - koper ke baggage lot mereka mencari tempat untuk menunggu pesawat tujuan Bali yang delay 1 jam. Cukup ramai airport hari itu, sehingga mereka tidak menemukan tempat duduk yang pas untuk mereka berdua. Di ujung tempat tunggu, tersisa satu tempat duduk. Tommy memilih untuk berdiri. "Duduk aja Lis, gue bisa berdiri kok, sekalian mau beli makanan sebentar," katanya dengan sopan. "Ah, nggak kok, gue nggak mau makan, lagian gue juga nggak pegel, lo aja, tadi kan lo udah bantu gue bawa koper," jawab Lisha. Tommy yang sebenarnya pegal, tersenyum geli di dalam hati melihat tingkah laku Lisha yang bisa dibohongi dengan gombal anak kecilnya itu.
-- setting : BALI
Sesampainya mereka di hotel pesanan mereka di Bali, mereka menelfon teman - teman mereka yang bersangkutan dalam pembuatan 4 Teens Party. "Lis, nanti jam 5 sore Glen sama Irwan acara 4 Teens Party dimulai, katanya sih juga ada Nessa," info Tommy dengan nada menyindir. "Hah? Nessa pacar barunya Irwan? Serius lo?" "Katanya sih gitu, gue juga nggak nyangka punya pacar baru langsung di gebet ke Party kita," "Oh, gitu, yaudah, kebetulan gue juga udah kenal si Nessa itu,"
Tommy rupanya secepat kilat merapihkan dirinya, sehingga ia yang duluan menghampiri Lisha.
"Heh! Lo tuh ngapain sih? Boker massal? Lama bener cuma mandi sama rapihin kamar! Cepetan, udah jam 4, kebo lo!" panggil Tommy sambil bercanda dan mengetuk pintu kamar Lisha. "Eh iya sabar Tom, gue lagi ganti baju nih, jangan masuk lo leher jerapah! Awas lo ngintip, gue kutuk jerawat segede batu di mata lo! Lagian baru juga jam 4 sih," sela Lisha tak kalah ketus sambil bercanda. Lisha keluar dengan pakaian bak pengemis jalanan, dengan jeans belel dan baju gothic. "Lis, lo nggak salah kostum nih?! Kita tuh bukan mau ke warung, kita mau ke restoran hotel! Ih, lo cewe apa cowo sih?" ujar Tommy kesal. "Ya sabar kali Tom, cuma baju celana gue juga, bentar gue cari yang bagusan, kalo ada tapi ya, hehehe.." canda Lisha. "Nggak, nggak kelamaan nungguin lo ganti baju!" dengan tidak sabar Tommy menarik tangan Lisha menuju outlet terdekat. "Eh, Tom, mau kemana woy? Gila lo ya, udah narik - narik tangan gue, diem aja lagi waktu gue tanya, emang lo pikir gue ini ngomong sama tembok?!" tembak Lisha. "Diem aja deh lo, yang penting lo tau nanti lo bakal secantik itu tuh, princess princess anak kecil, apa sih namanya, lupa gue," gombal Tommy yang kambuh lagi. "Terserah lo dah, awas jangan macem - macem lo sama gue," nada Lisha yang semakin pasrah.
"Lis, lis coba deh gaun yang ini, kayaknya cocok sama lo," tanya Tommy. "Hah? Apaan nih? Nggak! Ogah gue pake yang ginian, bisa dicap apa gue sm anak-anak! Ih nggak deh, cari yang lain aja Tom!" sergah Lisha dengan geli. Tommy yang tidak sabar mendorong Lisha kedalam fitting room untuk mencoba gaun tersebut. Melihat wajah Tommy yang memohon, Lisha tak tega, akhirnya ia mengalah dan mencoba gaun itu dengan tekad jika ia tidak suka akan meninggalkan outlet tersebut.
Pandangan Tommy tak lepas dari ujung rambut hingga kaki Lisha, terpesona dengan keanggunan Lisha yang tak kalah dengan model. "Whoaaa, Lis, cantik juga ya lo ternyata! Udah, Mbak, saya beli gaun ini satu," puji Tommy, seraya meninggalkan Lisha dengan gaun itu menempel di tubuhnya. "Eh, gila ya si Tommy!" Lisha mengejar Tommy, yang ternyata sudah sampai di mobil dengan earphone menempel di telinganya bermaksud tidak mau mendengar alasan keluar dari mulut Lisha.
Attention ;) ending will be done by my sis and me :D
Chapter 20 akan dibuat bab terpanjang, dan dibantu oleh ciciku.
Don't miss the FANTASTIC ending of Populer and the Princess. :)
Don't miss the FANTASTIC ending of Populer and the Princess. :)
Populer and the Princess - Chapter 19
Tommy belum berani untuk membuka isi kotak pemberian dari Clarissa. Tapi kali ini, Tommy mencoba untuk memberanikan diri. "Ok... gue mesti berani.." kata Tommy yang sudah siap membuka kotak itu. Ketika dibuka... ternyata foto - foto mereka berdua. Tapi di bagian bawah itu ada sebuah surat yang menunjukan untuk Lisha dan tidak diperbolehkan untuk dibuka sama Tommy. "Keliatanya penting banget... sampe gue gak boleh liat. Gue langsung bawa ke Lisha aja lah" kata Tommy yang sedang membolak - balikan amplop surat itu. Tommy akhirnya bergegas ke rumah Lisha.
"Lisha ! Woi ! Buka pintunya ! Penting nih !" teriak Tommy kencang sekali. Lisha-pun yang sedang di posisi pw-nya(Posisi Wueenak), diganggu oleh teriakan Tommy sehingga Lisha-pun turun. "Apaan sih lo ? Lagi enak-enaknya... diganggu sama orang idiiot !" bentak Lisha. "Heh ! Udah bagus gue gak liat ini !" bales Tommy sambil memberi amplop dari Clarissa. "Oh.. maaf ya !" kata Lisha yang malu. "Hahh.." kata Tommy yang merasakan kemenangan dari Lisha. Lisha membuka surat itu.
Liss... Waktu gue udah gak lama... Gue ingin banget punya kesempatan bisa sama lo, nyokap, dan Tommy... kalian adalah orang terpenting yang gue punya... orang lain menganggap gue aneh.. suka marah.. tapi sebenernya biar mereka disiplin... Ok.. to the main topic aja... Gue ingin lo jagain Tommy.. maksudnya sama Tommy gitu.. bisa ya ?
Your BFF,
Clarissa
"Dia tulis apa sih ? Kok sampe pacarnya sendiri gak boleh tau.." kata Tommy yang sangat penasaran. "Ogahh !" teriak Lisha jijik. "Kenapa lo lis ?'' kata Tommy yang semakin penasaran. "Udah lo pulang aja !" kata Lisha yang menyuruh Tommy cepat pergi karena mukanya memerah. "Ohh... pasti Clarissa suruh lo jadi pendamping gue di pesta '4 teens' !" kata Tommy yang ketawa - ketiwi. "Dihh... Gr banget lo !" kata Lisha. "Terus apa dong ?" tanya Tommy. "Baca aja sendiri !" kata Lisha yang memberi surat itu ke Tommy.
"Hah ? Ogahhh !" teriak Tommy. "Parah ya !" kata Lisha. "Tau nih ! Ihh.. masa harus sama orang nyebelin kaya gini !" bales Tommy. "Tapi ini kemauan almarhum Clarissa.. jadi gimana dong ?" tanya Lisha. "Langsung jadian aja !" kata Tommy polos. "Hah ? Lo udah gila ya !" kata Lisha yang tersipu malu.
Chapter 19 selesai ! Tunggu Chapter 20 ya !
"Lisha ! Woi ! Buka pintunya ! Penting nih !" teriak Tommy kencang sekali. Lisha-pun yang sedang di posisi pw-nya(Posisi Wueenak), diganggu oleh teriakan Tommy sehingga Lisha-pun turun. "Apaan sih lo ? Lagi enak-enaknya... diganggu sama orang idiiot !" bentak Lisha. "Heh ! Udah bagus gue gak liat ini !" bales Tommy sambil memberi amplop dari Clarissa. "Oh.. maaf ya !" kata Lisha yang malu. "Hahh.." kata Tommy yang merasakan kemenangan dari Lisha. Lisha membuka surat itu.
Liss... Waktu gue udah gak lama... Gue ingin banget punya kesempatan bisa sama lo, nyokap, dan Tommy... kalian adalah orang terpenting yang gue punya... orang lain menganggap gue aneh.. suka marah.. tapi sebenernya biar mereka disiplin... Ok.. to the main topic aja... Gue ingin lo jagain Tommy.. maksudnya sama Tommy gitu.. bisa ya ?
Your BFF,
Clarissa
"Dia tulis apa sih ? Kok sampe pacarnya sendiri gak boleh tau.." kata Tommy yang sangat penasaran. "Ogahh !" teriak Lisha jijik. "Kenapa lo lis ?'' kata Tommy yang semakin penasaran. "Udah lo pulang aja !" kata Lisha yang menyuruh Tommy cepat pergi karena mukanya memerah. "Ohh... pasti Clarissa suruh lo jadi pendamping gue di pesta '4 teens' !" kata Tommy yang ketawa - ketiwi. "Dihh... Gr banget lo !" kata Lisha. "Terus apa dong ?" tanya Tommy. "Baca aja sendiri !" kata Lisha yang memberi surat itu ke Tommy.
"Hah ? Ogahhh !" teriak Tommy. "Parah ya !" kata Lisha. "Tau nih ! Ihh.. masa harus sama orang nyebelin kaya gini !" bales Tommy. "Tapi ini kemauan almarhum Clarissa.. jadi gimana dong ?" tanya Lisha. "Langsung jadian aja !" kata Tommy polos. "Hah ? Lo udah gila ya !" kata Lisha yang tersipu malu.
Chapter 19 selesai ! Tunggu Chapter 20 ya !
Langganan:
Postingan (Atom)