Ketika jam sekolah selesai, siswa - siswa berlarian keluar dari sekolah. Tapi berbeda dengan Justin. Dia memainkan biola di ruang seni. Ketika dia menyadari ada yang memperhatikan dia, dia langsung menghentikan biolanya.
"Ngapain liatin gue ?" kata Justin dingin seraya menaruh biola itu ke tempat semulanya. "A-aku mau.. mau bermain piano di situ" kata perempuan itu gagap karena kaget dengan suara Justin yang sangat rendah sambil berlari ke piano hitam di bagian pojok. "Tadi kamu main biolanya bagus banget" kata perempuan itu ketika selesai memainkan sebuah lagu. "Lagu Beethoven, Fur Elise" kata Justin yang mengabaikan kalimat perempuan itu.
"Kejutan yang tak terduga" kata seseorang yang berdiri di ambang pintu. "Wahh.. Pak Wawan lagi" kata Justin enteng. "Kalian mau tetap disini atau keluar ? Soalnya bapak mau kunci pintu ini" kata pak Wawan. Perempuan itu langsung keluar dengan cepat, sedangkan Justin berjalan dengan santai. Pak Wawan menghela napas.
"Pak, mau tanya !" kata Justin seraya melihat perempuan itu pergi. "Apa ?" tanya pak Wawan sambil mengunci pintu ruang seni. "Perempuan itu siapa ?" tanya Justin balik yang mengalihkan perhatiannya ke pak Wawan. "Ohh... dia Shafira, katanya dia punya penyakit, tapi kaya banget" jawab Pak Wawan. "Bapak ke post dulu ya ! Cepat pulang !" kata pak Wawan seraya berjalan keluar sekolah.
"Justin !" teriak Demitria.
"Apa ?" tanya Justin dingin.
"Motorku rusak"
"Bakar aja"
"Bukan waktunya becanda !"
"Gue liat dulu" kata Justin pasrah.
"Akinya habis"
"Terus ?"
"Terus ya, di setrum ato di bawa ato beli aki lagi" kata Justin enteng.
"Dimana ?"
"Di restoran"
Demtri tidak menjawab dan memasang tampang mau marah ke Justin.
"Ya di tempat yang bisa beli aki lah ! Bodoh atau tolol sih lo !" kata Justin seraya tertawa kecil.
"Jadi aku harus bawa ke bengkel ?" kata Demitria yang mulai mencari akal untuk membawa motor itu ke bengkel.
Tanpa pikir panjang, Justin langsung membuka kunci kotak motor itu dan memulai menuntun ke bengkel.
"Makasih ya Justin !"
"Thanks is nice, but money is better"
"MATRE !"
Sesampainya di rumah, ayahnya sedang membaca koran. Justin hanya berjalan ke kamarnya tanpa menyapa atau memangdang ke ayahnya.
"Justin !"teriak ayahnya. Justin hanya menghentikan jalannya.
"Sampai kapan kamu mau seperti itu !" kata ayahnya marah.
"Sampai ayah balik sama mama" kata Justin dingin seraya melanjutkan jalannya ke kamar dan membanting pintu itu. Ayahnya menghela napas sambil mengusap - usap dadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar