Jam mengarah 8.00. Hari ini hari selasa, berarti hari upacara. Karena Justin telat, kemungkinan dia harus upacara di luar sekolah kalo gk di kasih pak Wawan masuk.
"Waahh.. jam 9.00 ya ? Telat dong" kata Justin enteng ketika sampai di depan sekolah.
"Pak ! Boleh masuk gak ?" kata Justin santai.
"Ya gak boleh dong ! Ini perintah Kapsek ! Kalo bukan perintah ya bapak udah kasih masuk !" kata pak Wawan yang sedang asik mendengarkan lagu dangdut dari salah satu channel radio. Terpaksa, Justin manjat pagar sekolah yang lumayan tinggi.
"Heh heh heh ! Ngapain kamu naik kesitu !" kata pak Wawan seraya suaranya mulai tinggi. "Ya mau masuk lah pak ! Gimana sih !" kata Justin yang terus naik sampai akhirnya masuk. pak Wawan hanya bisa bengong dengan perlakuan Justin yang nekad itu.
Ketika usai upacara, ada sedikit jeda(istirahat sebentar). Di kelaspun jadi ramai bagaikan pasar malam. Justin hanya tidur di mejanya. Di sampingnya, Reynard, hanya melihat Justin dengan geli seraya tersenyum. Tiba - tiba, bu Amel, guru Sejarah datang. Reynardpun segara membangunkan Justin.
"Woii ! Bangun ! Bu Amel udah dateng !" kata Reynard sedikit panik seraya mengerak - gerakan tubuh Justin.
"Apaan sih ! Orang lagi ada di alam mimpi, lo ganggu ! Mau lo apa sih !" kata Justin teriak - teriak dengan mata yang masih tertutup. Justin tidak menyadari kalau semua murid termasuk bu Amel melototin dia. "Justin ! Tolong ceritakan kitab Nagarakertagama !" kata bu Amel seraya meletakan buku - buku yang dia pegang ke meja.
Justinpun mulai menggaruk - garuk kepalanya. Tidak sedikit keringat yang keluar dari wajahnya.
"Ini pelajaran SMP lho !" kata bu Amel gak sabar. "Lagian. ibu sudah suruh latihan kemaren kan !"
"Iya bu"
"SMP, kamu belajar apa ?" tanya bu Amel ketika sudah menunggu sekitar 10 menit. "Jangan bilang kamu gak tau Tiga Serangkai !"
Justin menelah ludah. Dia memang lupa dengan Tiga Serangkai. Karena yang lain tidak sabar menunggu, mereka sepakat untuk membantu. Samar - samar terdengar suara Reynard "Ki Hajar... Dewantoro" katanya pelan tapi terdengar oleh bu Amel. "Jangan bantu dia Rey !" kata bu Amel.
"Ki Hajar Dewantoro..." kata Justin gugup.
"2 lagi siapa ?"
"Ki Hajar Dewantoro..... dan dua temannya bu"
kelas itupun ketawa ngangkak termasuk bu Amel.
"Nilaimu ibu kurangi... Rey, tolong jawab" kata bu Amel setelah selesai tertawa lepas. "Baik bu"
"Tigara Serangkai adalah Ki Hajar Dewantoro, Douwes Deker, Dr. Cipto Mangunkusumo" kata Rey pasti. Rey adalah murid terpintar di kelas. Bahkan dia pernah juara umum dan dia tetap pertahankan itu sampai sekarang. Dia banyak kelebihan, mau dari dalam atau luar. Dia keren, kaya, ganteng, ramah, sopan, pintar di segala mata pelajaran, kecuali musik. Ketika dia melihat not-not instrument piano(Misalnya), tiba - tiba saja, matanya berkunang - kunang. Dia juga pemilik sekolah SMA16. Tidak heran cewek - cewek SMA16 naksir Rey. Tapi rey tidak sombong akan hal itu. Dia tetap ramah ke siapapun.
Ketika bel istirahat berbunyi, Justin merokok di bawah pohon beringin.
"Aku udah bilang, gak boleh merokok" kata perempuan yang menarik rokok yang sedang asik Justin hisap, yang ternyata Sandra, ketua OSIS. "Mau lo apa sih ! Ganggu orang lagi rokok aja !" kata Justin marah sehingga dia mengeluarkan sebatang rokok lagi. Tapi perempuan itu mengambil semua rokok Justin dan dia buang ke tong sampah.
"Wooii ! Gue beli itu pake tabungan sendiri !"
"Ohh maaf.. tapi di SMA16 ada peraturan"
"Hahh..." kata Justin marah yang lalu meninggalkan Sandra.
Chapter 3 selesai ! Thx udh mau baca ! Tunggu chapter 4 ya !
Sedang jelek"nya... maaf !:P
BalasHapusga kok
BalasHapusbagus banget
oya, tambahin dong foto rey sm sandra nya
biar cerita nya komplit gitu
woke".. shafira jg pemain yg lumayan utama di cerita ini lhoo !
BalasHapus