"Pagi, Lisha, sayaaang.." canda Tommy yang muncul tiba - tiba di depan jendela kamar Lisha. Mata Lisha yang sama sekali belum terbuka, terbangun dengan suara khas tersebut. "Apa sih lo sayang - sayangan, ogah gue jadi sayang lo itu!" nada kesal Lisha tak tertahan juga. "Eh, nona cantik pagi - pagi udah marah, cepet tua bu! Hehehe.. Oya, udah siang nih, nanti kita ketinggalan pesawat ke Bali," sela Tommy tak kalah dengan jagoan gombalnya. Tak tahan mendengar ocehan Tommy yang semakin menjadi - jadi, Lisha bergegas mandi dan bersiap - siap menuju airport. "Cepetan ya, Lis"
Sesampainya mereka di airport, Tommy dengan gayanya yang sok cool membantu membawakan koper - koper Lisha yang cukup berat. "Gausah, Tom, makasih, gue bisa bawa sendiri kok," "Ah, sok kuat lo Lis, udah bagus gue mau tolong lo!" sahut Tommy tak mau kalah. Lisha yang mengerti adat Tommy yang keras kepala lebih memilih untuk diam.
Setelah memasukkan koper - koper ke baggage lot mereka mencari tempat untuk menunggu pesawat tujuan Bali yang delay 1 jam. Cukup ramai airport hari itu, sehingga mereka tidak menemukan tempat duduk yang pas untuk mereka berdua. Di ujung tempat tunggu, tersisa satu tempat duduk. Tommy memilih untuk berdiri. "Duduk aja Lis, gue bisa berdiri kok, sekalian mau beli makanan sebentar," katanya dengan sopan. "Ah, nggak kok, gue nggak mau makan, lagian gue juga nggak pegel, lo aja, tadi kan lo udah bantu gue bawa koper," jawab Lisha. Tommy yang sebenarnya pegal, tersenyum geli di dalam hati melihat tingkah laku Lisha yang bisa dibohongi dengan gombal anak kecilnya itu.
-- setting : BALI
Sesampainya mereka di hotel pesanan mereka di Bali, mereka menelfon teman - teman mereka yang bersangkutan dalam pembuatan 4 Teens Party. "Lis, nanti jam 5 sore Glen sama Irwan acara 4 Teens Party dimulai, katanya sih juga ada Nessa," info Tommy dengan nada menyindir. "Hah? Nessa pacar barunya Irwan? Serius lo?" "Katanya sih gitu, gue juga nggak nyangka punya pacar baru langsung di gebet ke Party kita," "Oh, gitu, yaudah, kebetulan gue juga udah kenal si Nessa itu,"
Tommy rupanya secepat kilat merapihkan dirinya, sehingga ia yang duluan menghampiri Lisha.
"Heh! Lo tuh ngapain sih? Boker massal? Lama bener cuma mandi sama rapihin kamar! Cepetan, udah jam 4, kebo lo!" panggil Tommy sambil bercanda dan mengetuk pintu kamar Lisha. "Eh iya sabar Tom, gue lagi ganti baju nih, jangan masuk lo leher jerapah! Awas lo ngintip, gue kutuk jerawat segede batu di mata lo! Lagian baru juga jam 4 sih," sela Lisha tak kalah ketus sambil bercanda. Lisha keluar dengan pakaian bak pengemis jalanan, dengan jeans belel dan baju gothic. "Lis, lo nggak salah kostum nih?! Kita tuh bukan mau ke warung, kita mau ke restoran hotel! Ih, lo cewe apa cowo sih?" ujar Tommy kesal. "Ya sabar kali Tom, cuma baju celana gue juga, bentar gue cari yang bagusan, kalo ada tapi ya, hehehe.." canda Lisha. "Nggak, nggak kelamaan nungguin lo ganti baju!" dengan tidak sabar Tommy menarik tangan Lisha menuju outlet terdekat. "Eh, Tom, mau kemana woy? Gila lo ya, udah narik - narik tangan gue, diem aja lagi waktu gue tanya, emang lo pikir gue ini ngomong sama tembok?!" tembak Lisha. "Diem aja deh lo, yang penting lo tau nanti lo bakal secantik itu tuh, princess princess anak kecil, apa sih namanya, lupa gue," gombal Tommy yang kambuh lagi. "Terserah lo dah, awas jangan macem - macem lo sama gue," nada Lisha yang semakin pasrah.
"Lis, lis coba deh gaun yang ini, kayaknya cocok sama lo," tanya Tommy. "Hah? Apaan nih? Nggak! Ogah gue pake yang ginian, bisa dicap apa gue sm anak-anak! Ih nggak deh, cari yang lain aja Tom!" sergah Lisha dengan geli. Tommy yang tidak sabar mendorong Lisha kedalam fitting room untuk mencoba gaun tersebut. Melihat wajah Tommy yang memohon, Lisha tak tega, akhirnya ia mengalah dan mencoba gaun itu dengan tekad jika ia tidak suka akan meninggalkan outlet tersebut.
Pandangan Tommy tak lepas dari ujung rambut hingga kaki Lisha, terpesona dengan keanggunan Lisha yang tak kalah dengan model. "Whoaaa, Lis, cantik juga ya lo ternyata! Udah, Mbak, saya beli gaun ini satu," puji Tommy, seraya meninggalkan Lisha dengan gaun itu menempel di tubuhnya. "Eh, gila ya si Tommy!" Lisha mengejar Tommy, yang ternyata sudah sampai di mobil dengan earphone menempel di telinganya bermaksud tidak mau mendengar alasan keluar dari mulut Lisha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar