Irwan, Nessa, Glen, Andi dan Bobby telah siap menunggu. Tak berbeda dengan Tommy, mereka tak kalah terkejut dengan penampilan Lisha yang berubah 180derajat. "Wah, Lis, kalo lo kayak gini terus sih, wah, sini deh lo sama gue aja," canda Andi bergombal. Lisha hanya tersenyum kecut, karena hal seperti inilah yang ia tidak ingin lihat.
Band Tommy telah siap di backstage. "Eh, Wan, jagain si Lisha juga ya, jangan mentang - mentang udah punya Nessa lo nggak bertanggung jawab sama dia, hahaha.." "Hah? Nggak salah lo? Kayaknya lo musuh bebuyutan gitu sama si Lisha, malah minta jagain? Minum obat apa lo? Stress kali ya temen gue ini." sahut Irwan tak percaya. "Ih apasih, Wan? Haha.. Emang kalo gue sayang sama Lisha nggak boleh?" timpal Tommy santai, tak melihat Irwan terbengong - bengong melihat kelaluan temannya kali ini. "Wah, jadi berita bagus nih," pikir Irwan dalam hati.
Saatnya Tommy menyanyi, tak biasanya ia memberikan sedikit kata pengantar.
Lagu ini gue persembahin kepada seorang cewe tomboy, yang nggak pernah nurut sama kata - kata gue yang sangat bijak, hehehe.. Tapi saat ini, dia menjadi cewe yang manis dan sangat anggun...
Irwan yang mengetahui orang yang dimaksud Tommy, menyenggol siku Lisha. Lisha yang kaget menatap Irwan, dan tersipu malu. "Cieee.. Lis, buruan nih ada yang nunggu, tungguin gih di backstage, pasti si Tommy perlu supporter terutama lo," saran Nessa. Wajah Lisha kian memerah, dan memilih untuk pergi dengan alasan menuju backstage, padahal ia ingin ke toilet. Cukup lama Lisha berada di toilet, samar - samar ia mendengar dentingan dan alunan musik yang dilantunkan Tommy. Indah dan tenang..
Aku tak dapat pergi...Kata - kata itu meresap kedalam tiap memori dikepala Lisha. Ia mulai merasakan hal yang tak biasa, merasakan kedamaian dan kehangatan setiap kali ia mendengar suara Tommy. Ia merasakan, dan mengingini Tommy selalu berada di sisinya, mungkin hal ini terdengar agak egois bagi Clarissa, tapi Lisha tidak dapat memaksakan perasaannya terhadap Tommy yang kini menjadi rasa sayang...
Disini alam begitu indah...
Jika kudatang kemari suatu saat nanti...
Ku kan melihat langit yang sama...
Mungkin ku berpikir terlalu banyak...
Tentang keindahan yang kau katakan...
Kutakut jalanku tak berujung...
Kutakut terlambat...
Selama waktu itu ku berpikir...
Disini tak seburuk yang kukira...
Aku mulai menemukan alasannya...
Lisha keluar dari toilet dengan mata sembab, karena masih malu melihat keadaan yang ramai walaupun band Tommy telah usai manggung. Tak melihat, seorang pelayang membawa minum hampir menabrak Lisha, sebagai gantinya Lisha menghindar dan terpeleset karena menggunakan higheels. Lisha merasakan sesuatu yang tidak keras seperti lantai, tapi kenyamanan. "Jalan itu pakai mata, jangan pakai rambut kali.." sindir Tommy. "Tommy! Ngapain disini?!" jawab Lisha salah tingkah dimana ia masih memikirkan Tommy. "Ih, ini anak, udah ditolongin bukannya terimakasih malah marah - marah" canda Tommy. "Iya, makasih ya Tom." sahut Lisha sambil berjalan pergi karena takut ketahuan wajahnya memerah.
Beberapa hari kemudian, Tommy telah meninggalkan rumahnya kurang lebih 3 hari tanpa kabar. Padahal besok adalah hari ulangtahun Lisha. Semakin khawatirlah Lisha menunggu Tommy, ponselnya tidak bisa dihubungi dan teman-temannya tidak mengetahui kemana Tommy pergi.
"Tommy, lo dimana, gue kangen sama lo, Tom," ujar Lisha dalam hati, tanpa sadar air matanya menetes.
Tanpa sadar, kaki Lisha membawa dirinya menuju taman kesukaannya dengan Tommy. Lisha memutuskan untuk menunggu sebentar sambil mencari angin. Hampir lewat pukul 12 malam, tetapi Lisha belum dirasai rasa kantuk dan lelah setelah 3 hari mencari Tommy.
"Gue, kangen sama lo, Tommy. Gue kangen sama kejailan dan kehangatan lo, gue gabisa jauh dari lo. Gue sayang sama lo, Tom," kata - kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa dapat ia cegah. "Hmm, rupanya ada yang ngangenin gue.. Hehehe..." canda Tommy yang muncul tiba - tiba membawa 2 buah es krim dari pundak Lisha. Lisha yang terkejut, menghadap ke Tommy yang duduk disebelahnya. "Tommy!" tak ada kata - kata yang dapat Lisha ungkapkan, hanya air mata bahagia yang bisa ia bagi dengan Tommy. Tommy mengerti. Ia merangkul Lisha, dan membiarkannya menangis di bahunya.
Setelah beberapa saat, dan Tommy merasa Lisha cukup menangis yang membuat bajunya basah. "Ckckck, kapten basket kok nangis mulu sih.. cupcupcup, anak maniss..." Terlalu kesal Lisha dibuat Tommy, ia memukuli Tommy sepuasnya disertai tawa Tommy. "Ah, udah ah, sakit tau! Lis, gue bawain lo es krim nih. Ada yang coklat loh.. Hehehe..." Lisha mengambilnya. Baru sedikit ia menjilatnya, ada bagian keras yang ia rasakan. Mungkin biskuit, pikirnya. Semakin lama, benda itu semakin jelas. Cincin. Sebuah cincin tergeletak di pucuk es krim coklat itu. Lisha memerhatikan wajah Tommy yang menyunggingkan seulas senyum bahagia. "Selamat ulangtahun ya, Lisha. Gue sayang sama lo," Sekali lagi, hanya air mata yang berlinang dapat ia ekspresikan.. Tommy memeluk Lisha. "Gue juga sayaaaang banget sama lo, Tom, makasih ya atas semuanya," ekspres Lisha disela tangisnya.
Suara gemuruh datang, kembang api yang berwarna - warni meletus begitu cepat dan banyak, dimana jam menunjukkan pukul 12.01 WITA, Bali, 10 Juni hari bahagia Lisha dan Tommy.
baguuss...jd mw nangis nih..
BalasHapusmksh dr aku dan cc ku !:D
BalasHapus